Lima Negeri di Pegunungan Seram Utara Masih Terisolasi, Warga Tagih Janji Pembangunan Jalan

 


Warga di lima negeri kawasan Pegunungan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, masih bergulat dengan keterisolasian akibat buruknya akses jalan. Hingga kini, pembangunan jalan lintas pegunungan yang telah lama dijanjikan pemerintah belum juga terealisasi.

Lima negeri yang dimaksud yakni Kaloa, Elemata, Hatuolo, Maraina, dan Manusela. Akses dari ibu kota kecamatan menuju wilayah pegunungan tersebut masih memprihatinkan dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan.

Kondisi paling parah dirasakan warga Negeri Kaloa yang berada di kaki Gunung Manusela. Wilayah ini bahkan sempat terisolasi total setelah jembatan penghubung putus akibat cuaca ekstrem beberapa waktu lalu.

Harapan warga sempat muncul ketika Penjabat Bupati Maluku Tengah saat itu, Rakib Sahubawa, melakukan kunjungan ke Negeri Kaloa pada Agustus 2024. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah daerah menjanjikan perbaikan jalan lintas Pegunungan Seram Utara. Namun hingga Mei 2025, janji tersebut belum terealisasi.

Kekecewaan warga disampaikan Barce Rehena, salah satu warga Pegunungan Seram Utara.

“Kami sudah terlalu lama hidup dalam keterbatasan karena jalan yang tidak layak. Janji perbaikan sudah kami dengar, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ujar Barce.

Barce meminta perhatian serius dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat agar turun langsung melihat kondisi jalan yang rusak parah.

“Kalau pejabat datang dan lihat sendiri kondisi di sini, mereka pasti tahu betapa sulitnya kami bergerak, apalagi saat musim hujan,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan bahwa warga pegunungan merasa belum merasakan dampak pembangunan secara merata.

“Kami juga bagian dari Maluku Tengah. Tapi sampai sekarang, pembangunan seperti belum benar-benar menyentuh kami di pegunungan,” katanya.

Harapan agar pembangunan jalan menjadi prioritas pada 2026 juga disampaikan Oktavianus Masa Una, warga Negeri Maraina.

“Kami berharap di tahun 2026 nanti pembangunan jalan ini benar-benar masuk prioritas. Jangan hanya jadi wacana setiap kali ada kunjungan pejabat,” ujar Oktavianus.

Ia juga meminta dukungan lembaga legislatif untuk mendorong percepatan pembangunan infrastruktur tersebut.

“Kami mohon DPRD juga ikut mendorong, supaya anggaran dan pelaksanaannya jelas. Jalan ini bukan untuk kemewahan, tapi kebutuhan dasar masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, jalan lintas pegunungan bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat.

“Kalau jalan bagus, hasil kebun bisa dijual, anak-anak lebih mudah ke sekolah, dan orang sakit bisa cepat dibawa berobat. Jalan ini soal hidup orang banyak,” tutup Oktavianus.

Warga berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat segera merealisasikan pembangunan jalan lintas Pegunungan Seram Utara agar isolasi geografis yang telah berlangsung puluhan tahun dapat segera diakhiri.*ct*

https://youtu.be/xiqq0Rhws_s

Post a Comment

0 Comments