Tiaukur,
Maluku Barat Daya – Arus bongkar muat di wilayah Kabupaten
Maluku Barat Daya (MBD) hingga kini masih menjadi persoalan serius, terutama
pada proses debarkasi dan embarkasi di sejumlah pelabuhan singgah kapal.
Kondisi ini
terjadi baik di kota kecamatan maupun desa-desa terpencil, yang berdampak
langsung pada distribusi barang, khususnya kebutuhan pokok masyarakat.
Distribusi Terganggu, Harga Barang Melonjak
Meski
sejumlah wilayah telah disinggahi kapal perintis seperti Sabuk Nusantara dan
kapal kargo, tingginya biaya angkut membuat harga barang tetap mahal hingga ke
tingkat konsumen.
Warga di
wilayah kepulauan pun merasakan dampak kenaikan harga, terutama untuk sembilan
bahan pokok yang terus mengalami lonjakan.
Minim Dermaga di Wilayah Strategis
Ironisnya,
hingga saat ini fasilitas dasar berupa dermaga belum tersedia di sejumlah
wilayah strategis, seperti Pulau Wetang, Pulau Dai, Pulau Luang, dan Pulau
Dawera.
Padahal,
survei pembangunan telah beberapa kali dilakukan oleh Kementerian Perhubungan
Republik Indonesia, namun belum ada realisasi pembangunan.
Ketiadaan
infrastruktur ini semakin memperparah kondisi ekonomi masyarakat, khususnya di
wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (T3).
Pengawasan Dinilai Lemah
Selain
faktor cuaca buruk yang sering menghambat distribusi, lemahnya pengawasan
pemerintah daerah juga dinilai turut memperburuk situasi, terutama pada sektor
perdagangan dan koperasi.
Akibatnya,
inflasi di wilayah kepulauan sulit dikendalikan dan semakin membebani
masyarakat.
UPP Wonreli Akui Keterbatasan
Kepala
Kantor UPP Kelas III Wonreli, Engel Soplanit, mengakui masih banyak wilayah di
MBD yang belum memiliki dermaga.
“Memang
masih banyak wilayah yang belum memiliki dermaga, namun pembangunan bukan kewenangan
kami,” ujarnya.
Ia
menjelaskan bahwa pembangunan pelabuhan di beberapa wilayah tersebut merupakan
tanggung jawab UPP Kelas II Saumlaki.
Pelayanan Tetap Berjalan di Tengah Keterbatasan
Soplanit
menambahkan, pihaknya saat ini hanya mengelola pelabuhan seperti Damer,
Kaiwatu, Leti, Kisar, Romang, Wetar, Ilwaki, Lurang, dan Lirang.
Meski dengan
keterbatasan, pelayanan kepada masyarakat tetap dilakukan secara maksimal,
termasuk saat musim barat yang kerap mengganggu aktivitas pelayaran.
“Pelayanan
tetap kami lakukan dengan pendekatan humanis meski dalam kondisi terbatas,”
katanya.
Cuaca Ekstrem Paksa Gunakan Pelabuhan Alternatif
Sebagai
contoh, saat cuaca ekstrem melanda Pelabuhan Kaiwatu, aktivitas terpaksa
dialihkan ke pelabuhan alternatif di Desa Moain.
Di lokasi
tersebut, penumpang harus menggunakan perahu kecil untuk mencapai kapal yang
berlabuh di tengah laut karena tidak tersedianya dermaga.
Kewenangan Terbatas, Pengembangan Belum Jelas
Soplanit
menegaskan bahwa pihaknya hanya memiliki kewenangan sebagai wilayah kerja
(wilker), sehingga tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut terkait
rencana pengembangan pelabuhan di MBD.
Kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pelabuhan demi mendukung konektivitas dan stabilitas ekonomi di wilayah kepulauan. ct*
0 Comments